Senin, 24 Februari 2014

Mandau Terbang



 Pada saat terjadianya kerusuhan antar Etnis di Sambas dan Sampit, banyak cerita




Mandau Terbang          

 berkembang tentang adanya fenomena Mandau Terbang : (Mandau yang bisa terbang mencari sasaran sindiri, bisa memilih dan memenggal leher musuh). Hal tersebut cukup menggetarkan dan membuat merinding siapapun yang mendegar.
 Semua dikembalikan pada yang mendengar, boleh percaya boleh tidak. Namun demikian banyak kesaksian yang menguatkan kebenaran akan fenomena tersebut.
 Apapun ceritanya harus digaris bawahi bahwa Mandau adalah senjata tradisional Suku Dayak . Mandau telah menjadi Simbol kekuatan, simbol keadilan, simbol persatuan dan sekaligus simbol kehidupan Suku Dayak.
 Bagi orang Dayak, membawa mandau kemana-mana adalah hal biasa, tidak perlu dirisaukan. Untuk mencabut mandau tidak boleh sembarangan, ada aturannya. Mandau tidak boleh
digunakan untuk mengancam orang lain, salah salah bisa mendapatkan denda secara adat. Mandau baru akan dicabut dari sarungnya hanya jika dalam mondisi amat terdesak untuk mempertahankan diri, dan konon setiap mandau keluar dari sarungnya harus mendapat korban.
Mandau terbang konon bisa dilakukan oleh para tetua Suku yang memiliki kesaktian tinggi, melalui ritual tertentu makan mandau tersebut akan melesat terbang mencari sasarannya, hampir dipastikan mandau tersebut tidak akan salah sasaran. Dan ritual Mandau terbang hanya akan dilakukan dalam kondisi yang amat darurat demi menpertahankan hidup.
 Ada kesaksian dari sebuah keluarga dimana kesaksian tersebut sulit untuk bisa diterima dengan akal sehat. Kejadian ini di sampit beberapa tahun lalu saat terjadi kerusuhan etnis.
Ada sebuah keluarga etnis cina, memiliki seorang pembantu dari etnis tertentu. Mereka sekeluarga sedang berada di dalam rumah, semua pintu dan jendela dalam kondisi tertutup dan terkunci rapat. Sejurus kemudian terdengar pintu diketok dari luar, buru-buru keluarga tersebut menyembunyikan pembantunya ke sebuah ruangan yang dinilai aman dan kedap udara. selanjutnya mereka mebuka pintu, Di depan pintu diluar rumah telah berdiri beberapa lelaki suku Dayak yang sedang melakukan sweeping terhadap warga etnis ‘tertentu’. Mereka menanyakan apakah ada warga etnis “tertentu” di dalam rumah ? . Pemilik rumah yang kebetulan dari etnis cina tersebut mengatakan bahwa yang didalam rumah tersebut hanya mereka saja sekeluarga etnis cina.
Mendengar jawaban pemilik rumah tersebut, beberapa laki laki Dayak tersebut tidak berkomentar dan segera meninggalkan rumah. Si pemilik rumah merasa lega dan buru-buru masuk rumah dan mengunci pintunya kembali.
Merasa situasi aman dari sweeping, maka pemilik rumah tersebut segera menghampiri pembantunya yang di sembunyikan dalam sebuah ruangan. Namun bagai mimpi disiang bolong, dia mendapati leher sang pembantu tersebut telah putus terpotong bersimbah darah. Karena ketakutan dan trauma , maka tanpa fikir panjang satu keluarga etnis cina tersebut saat itu juga pergi meninggalkan rumah dengan hanya menbawa barang yang bisa dibawa seadanya kembali ke kota asal di Malang .
                                         


Tidak ada komentar:

Posting Komentar